Map5NGx8LGN6MWR4MWZ8NWB4LDcsynIkynwpACBc

MENULIS KREATIF CERPEN TRANSFORMATIF

7981759374294050699
BLANTERLANDINGv101
7981759374294050699

MENULIS KREATIF CERPEN TRANSFORMATIF

Kamis, 29 Oktober 2020
MENULIS KREATIF CERPEN TRANSFORMATIF

MENULIS KREATIF CERPEN TRANSFORMATIF

Rp 60.000
oleh Muarif Esage
Beli Buku

Profil Penulis

Muarif Esage lahir di Tegal pada tanggal 25 Mei 1969 adalah alumni IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (sekarang menjadi UIN Jakarta). Sejak tahun 1999, dia memutuskan untuk menjadi guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Dukuhwaru hingga tahun 2012 dan kini mengajar di SMA Negeri 1 Slawi kabupaten Tegal. Karya-karya bukunya yang telah terbit berjudul Puisi, Ideologi, dan Pembaca yang Terkalahkan, Analisis Esai dan Puisi Afrizal Malna (Penerbit Kekata Publisher, 2017); Lanang Setiawan, Penjaga Bahasa dan Pelopor Satra Tegal (Penerbit Kekata Publisher, 2018); Dwi Ery Santoso, Presiden Penyair Tegalan (Penerbit Komunitas Sastrawan Tegalan, 2019); dan Maufur, Njunjung Duwur Nilai Luhur (Penerbit Komunitas Sastrawan Tegalan, 2020). Tulisan proses kreatifnya sebagai penulis dimuat dalam buku Merenda Kata Mendulang Makna (Penerbit Balai Bahasa Jawa Tengah, 2019).

Deskripsi

Cerpen transformatif merupakan cerita pendek yang ditulis berdasarkan teks lain yang dijadikan acuan atau hipogram. Dalam praktik penulisan cerpen transformatif, siswa mengubah bentuk dan isi teks dongeng dengan teknik ekspansi, konversi, modifikasi, atau ekserp. Ekspansi berarti mengembangkan atau memperluas cerita dongeng dan konversi berarti memutarbalikkan cerita dongeng. Sedangkan modifikasi berarti memanipulasi cerita dongeng dan ekserp berarti mengambil inti sari cerita dongeng. Beberapa cerpen yang ditulis oleh pengarang Indonesia termasuk dalam kategori cerpen transformatif, seperti cerpen karya A.A Navis dan Sapardi Djoko Damono.

Menulis cerpen secara kreatif dengan model transformatif dilakukan dengan langkah awal, siswa menentukan terlebih dahulu teks dongeng sebagai acuannya. Kemudian, siswa melanjutkannya dengan menganalisis dongeng, menetapkan teknik transformasi yang akan digunakan, dan dilanjutkan dengan menulis cerpen transformatif. Sebagai langkah yang terakhir, siswa merevisi cerpen yang telah ditulisnya.

Dengan mentransformasikan teks dongeng, siswa diberi kebebasan untuk menumbuhkan kreativitas berdasarkan gagasannya sendiri. Siswa bebas memperlakukan cerita dongeng menurut pemahaman dan tanggapannya. Dengan cara seperti ini, tidaklah mustahil menulis cerpen dapat menjadi aktivitas produktif yang menyenangkan bagi siswa.

Kategori
BLANTERLANDINGv101
Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang