Map5NGx8LGN6MWR4MWZ8NWB4LDcsynIkynwpACBc

PUISI WARTEG

7981759374294050699
BLANTERLANDINGv101
7981759374294050699

PUISI WARTEG

Rabu, 11 November 2020
PUISI WARTEG

PUISI WARTEG

Rp 50.000
oleh Muarif Essage
Beli Buku

Profil Penulis

M. Essage lahir di Tegal dari keluarga yang tidak sepenuhnya berkecimpung dalam usaha warung Tegal. Meski demikian, dia pernah tinggal dalam dunia warteg selama beberapa tahun di Jakarta. Dia tinggal di kampung yang di kelilingi para tetatangga dan kawan-kawannya yang menekuni usaha warung makan ini. Puisi warteg yang terkumpul dalam buku ini hanya catatan tentang sebagian kecil kehidupan orang-orang warteg. Dia memilih menuliskan beberapa catatannya dalam bentuk puisi berbahasa Tegal. “Saya bukanlah penyair yang mahir memilih dan mengolah kata-kata, sebab saya hanyalah seorang pembaca yang senang melantunkan bahasa Tegal. Saya bukan penyair, saya hanya pecinta kata-kata dalam bahasa ibu saya.” Demikian ungkap M. Essage yang kesehariannya menjadi guru di SMA Negeri 1 Slawi Kabupaten Tegal

Deskripsi

Buku puisi berbahasa Jawa idealek Tegal ini memuat 55 Puisi yang ditulis sepanjang bulan Agustus hingga Oktober 2020. “Puisi Warteg” yang digunakan dalam judul buku ini mengacu pada dua hal. Pertama, keseluruhan pusi-puisi Tegalan dalam buku ini berangkat dari problematika di seputar orang-orang Tegal yang pada umumnya dikenal sebagai pedagang warung nasi di perantauan. Warung Tegal atau warteg menjadi sangat identik dengan orang Tegal. Buku ini adalah kisah-kisah orang Tegal yang menggeluti dunia warteg. Kedua, sebagai istilah “puisi warteg” menjadi identitas lain dari jenis puisi lokal dengan pilihan kata yang mudah dipahami masyarakat Tegal. Puisi Tegal harus bisa diterima oleh pembacanya sehingga karya sastra lokal ini dapat mudah pula diterima oleh pembacanya.

Simaklah baris-baris puisi bahasa Jawa dialek Tegal, misalnya, yang berbunyi Wis gén, rejeki kuwé wis dadi pepestén mugané menungsa aja pada klalén sadurungé anjog dina kepatén maring wong tua loro aja kewanén. Baris-baris puisi tersebut jelas amat mudah dipahami oleh masyarakat awam Tegal. Maka dari itu, penulis buku Puisi Warteg memilihnya menjadi sarana ekspresi pengucapan dengan bahasa puisi yang “longgar”. Puisi Warteg bukan buku kumpulan puisi pada umumnya yang lebih menonjolkan unsur-unsur sastrawi. Permainan gaya bahasa atau majas dan penggunaan kata-kata konotatif tidak akan banyak ditemukan dalam Puisi Warteg. Seluruh puisi yang terkumpul dalam buku ini hanya mengandalkan permainan bunyi kata agar pembaca awam ikut merasakan “kenikmatan” sastra lokal khas Tegalan.

Buku kumpulan Puisi Warteg akan mengantarkan pembaca, khusunya pembaca Tegal, mengenal seluk-beluk kehidupan orang-orang warteg di perantauan. Segala problematika yang dialami para pedagang warteg akan dapat dirasakan para pembaca. Meski harus pula diakui bahwa unsur imajinasi dalam penulisan puisi-pusi dalam buku ini dapat kita menemukan dalam beberapa puisi Tegalan karya M. Essage.

Kategori
BLANTERLANDINGv101
Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang