Map5NGx8LGN6MWR4MWZ8NWB4LDcsynIkynwpACBc

PECAHAN KATA PECAHAN HATI

7981759374294050699
BLANTERLANDINGv101
7981759374294050699

PECAHAN KATA PECAHAN HATI

Selasa, 08 Desember 2020
PECAHAN KATA PECAHAN HATI

PECAHAN KATA PECAHAN HATI

Rp 50.000
oleh Maulana Ihsan
Beli Buku

Profil Penulis

Maulana Ihsan lahir 10 Oktober 1991 di Sumatera Barat. Anak pertama dari empat bersaudara pernah bekerja di beberapa sekolah yang ada di Sumatera Barat sebagai tenaga pendidik. Diantaranya SMP Baiturrahmah Padang pada tahun 2016, SMPN 03 Sungai Beremas, Pasaman Barat dan Pesantren Jamaliyah Tamiang Ampalu Pasaman Barat pada tahun 2017. Akhir tahun 2017 merantau ke Jakarta, di Jakarta pernah bekerja sebagai Perawat Lansia selama 3 bulan dan sebagai Tenaga Administrasi di PT. Yelloow Kreasi Indonesia yang bergerak di jasa pembuatan iklan televisi hingga awal tahun 2020. Saat awal-awal pandemi COVID 19 dimulai, penulis sempat membuka rumah makan masakan padang di Jakarta Selatan, namun gulung tikar setelah beberapa bulan buka. Dan pada tahun 2014 pernah ingin menerbitkan buku kumpulan tulisan-tulisannya tapi naskah tulisan yang ditulis tangan sejak SMP – MAN dibakar oleh seseorang.

Deskripsi

Buku Pecahan Kata Pecahan Hati adalah buku kumpulan puisi yang dirangkai dengan kata-kata yang biasa oleh Maulana Ihsan tapi tetap memiliki makna.

Salah satu puisi dalam buku ini adalah “Camar Yang Hilang” menceritakan tentang bagaimana laut yang dulu indah dan bersih, sekarang sudah tidak sama lagi. Laut sekarang telah rusak akibat manusia yang hilang rasa peduli pada lingkungannya sendiri.

Jika engkau datang dua puluh tahun yang lalu
Burung camar masih banyak mencari makan di laut
Terbang bebas melingkar di perahu nelayan
Hinggap di ranting pohon yang mengapung di laut
***

Selamat untuk kalian yang korupsi
Jangan pernah berhenti
Karena kalian sama dengan taik

Potongan puisi yang berjudul “Taik” di atas menggambarkan kemarahan penulis tentang korupsi yang terjadi dimana-mana di negeri ini. Para koruptor tidak pernah ada habisnya di negeri ini, entah itu karena sistemnya yang membuat peluang terjadi korupsi atau oknumnya yang memang selalu ingin korupsi. Dari kemarahan itulah penulis mengambarkan para koruptor tersebut sama seperti taik yang tidak pernah habis meskipun telah dibuang.

Kategori
BLANTERLANDINGv101
Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang